View All
Search: Advanced Search
 

Printer Friendly

CIFOR Media Coverage 2007

Page: [1][2][3]

CIFOR places special emphasis on working with the media and respects media copyright. Our media pages include only the title and opening sentences of articles produced about CIFOR’s work. To try and access the complete story, we suggest you do a web search using “CIFOR” plus key words from the “opening sentences” of the article(s) below you are interested in. Often the full story can be found on the media company’s internet site or on other web pages.

  • Media Indonesia - 4 May 2007
    Title: Deforestasi di Indonesia Capai 2% per Tahun

    Isu deforestasi di Indonesia akan menjadi salah satu isu utama dalam Conference of Parties (COP) Ke-13 Protokol Kyoto, yang akan berlangsung di Bali, Desember 2007. Pasalnya laju deforestasi di Indonesia selama 2000-2005 mencapai 2% per tahun.

    Kerusakan hutan Indonesia ini menjadi pemicu tingginya emisi karbon. Laporan Bank Dunia 2007 menyebutkan Indonesia sebagai negara penyumbang karbon dioksida (C02) ketiga di dunia akibat pembukaan hutan dengan cara dibakar dan pembalakan liar (illegal logging).

    ''Dengan situasi seperti ini, pertemuan di Bali akan sangat penting artinya dalam menghasilkan mandat yang akan memandu Protokol Kyoto untuk melajukan pengurangan emisi C02 dari deforestasi,'' kata peneliti senior Pusat Riset Kehutanan Internasional (Center for International Forestry Research/CIFOR) Daniel Murdiyaso di Jakarta, Rabu (2/4).

    Deforestasi, lanjut dia, merupakan persoalan terbesar yang harus diatasi Indonesia dalam penurunan emisi gas rumah kaca. Data Kementerian Lingkungan Hidup 1998 menyebutkan, dari total 800 juta ton emisi gas rumah kaca yang dihasilkan Indonesia selama 1992-1997 sekitar 75% di antaranya didominasi alih fungsi lahan. Sisanya, dengan angka yang kurang signifikan, dihasilkan oleh penggunaan energi dan aktivitas industri.

  • Analisa Online - 4 May 2007
    Title: Negara Maju Jangan Jadi Tempat Pencucian Gelap Hasil Hutan Indonesia

    Pembahasan insentif pengurangan emisi gas rumah kaca akibat deforestasi di negara berkembang (REDD) diperkirakan sejumlah pihak akan menjadi salah satu isu krusial dalam Konferensi antar Pihak (CoP) 13 Kerangka Kerja Konvensi Perubahan Iklim PBB (UNFCCC) di Bali pada Desember mendatang. "Tahun 2007 ini diharapkan sudah ada keputusan tentang bagaimana mengurangi emisi karbon dari deforestasi atau penggundulan hutan di negara-negara berkembang," kata peneliti senior Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) Profesor Daniel Murdiyarso di Jakarta, Rabu (2/5).

  • Kompas - 3 May 2007
    Title: Pemanasan Global: Perubahan Iklim adalah Masalah Fundamental

    Pemerintah Indonesia menempatkan persoalan perubahan iklim akibat pemanasan global sebagai masalah fundamental. Meningkatnya perhatian pemerintah itu sejalan dengan penunjukan Indonesia sebagai tuan rumah Climate Conference of Party ke-13. Menurut peneliti senior CIFOR yang juga mantan Deputi Menteri Lingkungan Hidup dan kepala negoisasi United Nations Framework Daniel Murdiyarso, lokakarya bertujuan menyiapkan wartawan untuk liputan COP ke-13, Desember 2007 nanti di Bali.

  • Media Indonesia - 3 May 2007
    Title: Tahan laju Deforestasi Lebih Efektif Turunkan Emisi

    Mencegah penebangan hutan jauh lebih efektif menurunkan total emisi gas rumah kaca di negara berkembang. Jika upaya menyerap karbon lewat penanaman hutan (aforestasi dan reforestasi) setiap tahunnya hanya sebesar 30 juta ton, deforestasi justru menyumbang 1700 juta ton emisi CO2 per tahun. Angka emisi akibat laju penebangan hutan ini terlalu besar karena setara dengan seperempat total emisi gas rumah kaca yang menyebabkan perubahan iklim. Hal ini dikemukakan peneliti senior Pusat Riset Kehutanan Internasional (Center for International Forestry Research/CIFOR) Daniel Murdiyaso di Jakarta, Rabu (2/4).

  • Analisa Online - 3 May 2007
    Title: Sosialisasi Perubahan Iklim di Indonesia "Memilukan"

    Peneliti senior CIFOR (Pusat Peneltian Hutan Internasional) mengatakan tingkat pemahaman isu perubahan iklim di Indonesia masih sangat minim, bukan cuma di tataran masyarakat tapi juga di kalangan Kabinet Indonesia Bersatu. Daniel menjelaskan, strategi pembangunan para menteri dan departemen-departeman tak mencakup sudut pandang adaptasi dan mitigasi, sehingga misalnya upaya pencapaian panen beras oleh Departemen Pertanian tidak disertai pertimbangan pelepasan karbon lewat pembukaan lahan. Itu sebabnya, kata penulis buku seri perubahan iklim tersebut, Indonesia harus lebih gencarkan sosialisasi tentang fenomena perubahan iklim dan menyisipkan isu ini ke semua strategi pembangunan.

  • LKBN Antara - 2 May 2007
    Title: Pembalakkan Liar di TN Sebangau Rugikan Negara Triliunan Rupiah

    Aktivitas pembalakkan liar di kawasan Taman Nasional (TN) Sebangau, Kalimantan Tengah selama bertahun-tahun diperkirakan telah menyebabkan kerugian negara senilai triliunan rupiah. "Kami pastikan mencapai triliunan rupiah, karena yang terdata saja sejak tahun 2001 hingga 2003 telah mencapai Rp428 miliar hanya akibat ulah para pembalak liar itu," kata Analis Keuangan Lembaga Penelitian Kehutanan Dunia (Centre for International Forestry Research/CIFOR) Dr Bambang Setiono, di Palangka Raya, Rabu. Penelitian CIFOR terhadap kawasan lindung itu memperkirakan aktifitas pembalakkan liar telah muncul dan marak sejak tahun 1996 dan baru terungkap 10 tahun kemudian saat penemuan satu juta potong kayu tak bertuan di wilayah itu. Menurut Bambang, pada kurun waktu 2001-2003 telah terjadi deforestasi hutan Sebangau seluas 19.436 hektar atau rata-rata hutan Sebangau hilang seluas 6.500 hektar per tahun. "Dengan asumsi produktitas hutan alam adalah 22 meter kubik kayu, maka jumlah kayu yang ditebang dalam periode tiga tahun itu mencapai 427.592 meter kubik atau sekitar 3,5 juta potong kayu," ungkapnya.

    Different versions of this story also appeared in RRI online, Kalteng Post and Banjarmasin Post.

  • Nature Magazine - 26 April 2007
    Title: A logged forest in Borneo is better than none at all

    We welcome your encouragement for integrating conservation with other land use in Borneo (“Timber and tapirs” Nature 446, 583–584; 2007). However, your picture of rampant logging and forest destruction in Indonesian Borneo (Kalimantan) requires modification. Many Indonesian timber companies now contribute to conservation. About 10% of Borneo is under strict protection. If no more than this forest is maintained, habitat loss and fragmentation will have a severe impact on many rare and wide-ranging species such as the Bornean clouded leopard Neofelis diardi, or the endangered Storm’s stork Ciconia stormi. Maintenance of any additional forest offers numerous potential conservation benefits.

  • The Jakarta Post - 24 April 2007
    Title: Adaptation to climatic changes is imperative

    While calling for immediate action from the government, a number of environmental groups and companies also expressed their commitment to forest conservation activities in the country.

    Accor Group Indonesia, state-owned forest management company Perum Perhutani and community forest group Karya Lestari pledged Sunday to create more green space in the country.

    Under the supervision of the Center for International Forestry Research (Cifor) and the Centre de Cooperation Internationale en Research Agronomie pour le Developpement (Cirad), the group aims to plant 74,120 sengon trees (Paraserienthes faicataria) and jatropha plants in Indonesia.

  • Kompas - 22 April 2007
    Title: Accor Indonesia Sumbang 74.120 Pohon di Lahan Perhutani Pemalang

    Grup Hotel Accor Indonesia menyumbang 74.120 pohon sengon dan pohon jarak yang akan ditanam di lahan 43,2 hektar Desa Glandang,.Pamalang, Jawa Tengah, milik Perum Perhutani. Ini merupakan kontribusi perusahaan internasional yang bergerak dalam manajemen jaringan hotel Accor di Indonesia. Penandatanganan nota kepahaman program manajemen kehutanann dilaksanakan Minggu (22/4) pagi di Kebun Binatang Ragunan, Jakarta Selatan, antara Accor Indonesia, Perum Perhutani, dan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) di bawah koordinasi CIFOR (Centre for International Forestry Research) dan CIRAD (Centre de Cooperation Internationale en Research Agronomie pour le Developpement).

  • Nature Magazine - 5 April 2007
    Title: Biodiversity: Logging: the new conservation

    Can a vast monoculture plantation be at the forefront of biodiversity protection? David Cyranoski
    meets conservation biologists who hope to save species by making peace with the enemy. Can a vast monoculture plantation be at the forefront of biodiversity protection?

  • Republika - 5 April 2007
    Title: Situs Pemkab Garut Raih Penghargaan Website Favorit

    Bubu Awards merupakan acara tahunan yang bertujuan untuk meningkatkan gairah di industri TI Indonesia dan untuk meningkatkan standar dalam dunia web dan online promotion, yang dikarenakan banyaknya situs-situs Indonesia yang kurang efektif dalam penggunaannya. Bubu Award juga merupakan salah satu cara mengedukasi pemilik atau pengelola situs web dan masyarakat umum mengenai situs web yang efektif dengan melakukan penilaian terhadap grafis dan tata letak, isi, kegunaan dan teknologi. Untuk Organization/Community Award diraih oleh CIFOR (Center for International Forestry Research) dengan situs www.cifor.cgiar.org
    Different versions of this story also appeared in Kompas and aired in Metro TV.

  • Koran Tempo - 2 April 2007
    Title: Menyelamatkan Bumi, Melindungi Hak Hutan

    Sebanyak 3 miliar ton gas karbon dioksida setiap tahunnya terbang bebas ke atmosfer. Semakin sedikit hutan yang bisa memerangkap gas pembentuk rumah kaca atas bumi itu sehingga harapan digantungkan pada hutan-hutan tropis yang masih tersisa, di antaranya di Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. "Masih sedikit manusia yang menghuni hutan-hutan itu," kata Kenneth Chomitz, pakar ekonomi di Departemen Riset Bank Dunia. "Ini adalah tantangan di masa depan, bisakah pemerintah dan instansi terkait tegas menjaganya?" Chomitz menyatakan itu ketika membahas laporan Bank Dunia dalam buku Dalam Sengketa? Perluasan Pertanian, Pengentasan Kemiskinan dan Lingkungan di Hutan Tropis di Kampus CIFOR, Bogor, pekan lalu. Chomitz terlibat sebagai penulis utama laporan itu.

  • Agro Observer - 29 March 2007
    Title: Kehidupan setelah pembalakan: merekonsiliasi pelestarian satwa dengan produksi kehutanan di Kalimantan

    Kalimantan memiliki hutan terkaya dan terluas di Asia Tenggara. Di dalamnya terkandung keanekaragaman hayati yang luar biasa. Menjaga keselamatan kekayaan ala mini adalah tugas pelestarian global yang signifikan.

  • Agro Observer - 29 March 2007
    Title: Adakah keadilan di hutan

    Dimana pun di pelosok Indonesia, dapat dipastikan akan bertemu dengan mereka yang menjadi korban dari undang-undang kehutanan di negara ini. Kasus yang terjadi di Lampung era 1990-an misalnya. Petugas kepolisian menyita tanaman kopi yang ditanam penduduk di tanah negara dan mengusir mereka keluar dari hutan di Simpang Sari. Hal serupa juga terjadi di Dwi Kora, dimana aparat menggunakan gajah untuk menghancurkan rumah dan tanaman pangan yang berada di atas tanah negara dan merebut penghidupan serta tempat bernaung para penduduk.

  • Kompas - 29 March 2007
    Title: Insentif Cegah Deforestasi: Biaya Karbon Enam Kali Nilai Hutan

    Upaya menjaga kelestarian hutan yang masih tersisa di Indonesia, di tengah praktik pembabatan hutan secara ilegal yang masih sulit diatasi, kini mendapat dukungan dari Bank Dunia berupa pemberian insentif. Atas rencana tersebut, Indonesia berpotensi memperoleh manfaat langsung.
    "Komunitas internasional sejak lama memerhatikan perlunya menekan laju deforestasi yang cepat, yang berpengaruh pada perubahan iklim global. Karena itu, ini peluang baik bagi Indonesia untuk menyambutnya," kata Penasihat Senior Kelompok Evaluasi Independen Bank Dunia, Kenneth M Chomitz, di Jakarta, Rabu (28/3).

  • The Jakarta Post - 28 March 2007
    Title: Report advises on best forestry policy

    Kenneth M. Chomitz, senior advisor to the World Bank's Independent Evaluation Group, on Wednesday launched a report on farm expansion, poverty eradication and forestry titled In Dispute.

    After the launch, Chomitz addressed 70 researchers who were taking part in a seminar on forestry management and carbon trading investment held by the Center for International Forestry Research (CIFOR) at its office in Situ Gede, Bogor.

  • The Jakarta Post - 28 March 2007
    Title: North Sumatra eager to get back on top of resin game

    According to the Center for International Forestry Research (CIFOR), benzoin resin in Central Java is used mainly for the production of incense and cigarettes. Only a small portion is exported overseas through Singapore. In the 1970s, an average income from benzoin farming was enough to allow the people of North Sumatra to send their children to university.

  • The Jakarta Post - 20 March 2007
    Title: RI Indonesian forest management gets some good news

    When it comes to Indonesia's forests, the news is usually bad. But according to an international forestry expert, there's some good news as well. Doris Capistrano, director of the Forests and Governance Program at the Center for International Forestry Research (CIFOR), said that in the last two years Indonesia has been active in pursuing illegal loggers, enforcing stricter laws against violators and implementing a range of other actions to safeguard the country's precious forest resources.

  • New York Times - 13 March 2007
    Title: Old-Growth Finds the New World

    Many homeowners in Southeast Asia use teak "like a bank," said Philippe Guizol, a researcher who frequently works with the Center for International Forestry Research, a conservation organization based in Indonesia. "If you need cash and you have teak in your floor, you just sell it," Mr. Guizol said.

    Same version of the article also published in San Francisco Chronicle

Greg Clough
Communications Specialist
CIFOR, Jalan CIFOR
Situ Gede, Sindang Barang
Bogor Barat 16680.
Tel: 0251-622-622
Fax: 0251-622100
E-mail:g.clough@cgiar.org