View All
Search: Advanced Search
 

Printer Friendly

CIFOR Media Coverage 2006

Page: [1][2][3]

CIFOR places special emphasis on working with the media and respects media copyright. Our media pages include only the title and opening sentences of articles produced about CIFOR’s work. To try and access the complete story, we suggest you do a web search using “CIFOR” plus key words from the “opening sentences” of the article(s) below you are interested in. Often the full story can be found on the media company’s internet site or on other web pages.

  • Financial Times – 30 December 2006
    Indonesia proposes logging ban as floods devastate degraded areas

    A commercial logging moratorium in Indonesia’s critically degraded forests was yesterday proposed by the country’s environment minister, following widespread flooding blamed on illegal logging. Forestry experts said enforcement would be the key to the policy’s success. “The government is doing some good things to try and to solve these issues but the problem is the law enforcement on the ground,” said Greg Clough of the Indonesia-based Centre for International Forestry Research.

  • Sinar Harapan – 16 December 2006
    Resensi Buku: Kajian Ekologi bagi Pengelolaan Hutan Produksi yang Lestari

    Buku setebal 347 halaman ini berusaha menjawab pertanyaan” “Mengapa penelitian ekologi jarang menghasilkan perbaikan praktik pengelolaan hutan?”. Kegelisahan ini telah mengusik Douglas Sheil untuk menginisiasi pembuatan buku yang diterbitkan oleh CIFOR, dengan kontribusi dan melibatkan sejumlah organisasi seperti ITTO, UNESCO, Departemen Kehutanan, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, TNC, WWF, WCS dan CIRAD, dan juga para peneliti dari dalam dan luar negeri berbagai institusi.

  • AgroIndonesia – 12 December 2006
    Sumber Masalah Kehutanan

    Banyaknya rekening atas nama menteri kehutanan yang dianggap BPK tidak jelas statusnya memang sentilan yang membuat kuping para pejabat Dephut merah. Menurut Bambang Setiono, analis keuangan pusat riset kehutanan CIFOR, yang harus dilakukan Dephut adalah membuat neraca keuangan yang transparan terhadap semua rekening keuangannya.

  • Cameroon Tribune – 12 December 2006
    Centre: Une manne appelée "Okok"

    L’année 2006 est en train de s’achever sur une bonne note pour les agriculteurs de la filière "Okok" d’Evodoula. L’Association pour le Développement des Initiatives de l’Environnement (ADIE) qu’ appuie le Centre International de Recherche Forestière (CIFOR), dans les programmes de valorisation des produits forestiers non ligneux et de lutte contre la pauvreté en milieu rural, a récemment offert un important lot d’équipements agricoles et phytosanitaires composé entre autres de motos-pompes, de brouettes, d’arrosoirs, de pulvérisateurs, à cinq groupes d’initiatives communautaires (GIC), comptant parmi les plus dynamiques de cette localité. Le coût total du don est estimé à un peu plus de trois millions de FCFA.

  • AgroIndonesia – 28 November 2006
    Opini: Quo Vadis mebel indonesia?

    Eskpor mebel kayu Indonesia menyumbang lebih dari satu miliar dollar AS setiap tahunnya. Bersama dengan karet alam, kelapa sawit dan alas kaki, mebel kayu merupakan andalan ekspor nonmigas Indonesia. Sungguhpun begitu, usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) mebel tidak menikmati nilai tambah (value added) yang memadai.

  • Suara Sumbawa – 23 November 2006
    Pelajaran dari Negeri Kangguru: dari Pengelolaan Hutan Tanah Milik hingga Hutan Kota

    Di negara bagian Victoria, kawasan hutan dengan luasan tertentu memiliki manajer yang berperan untuk mengelola dari penanaman hingga pemanenan sampai tingkat blok tanam maupun blok tebangan. Hal ini mirip dengan struktur KCD/SPH di Sumbawa, dimana KCD/SPH memiliki wilayah kerja tertentu.

  • Kaltim Post – 23 November 2006
    Beri Perhatian Khusus, Picu Desa Lestarikan Lingkungan

    Tidak mudah untuk merealisasikan kebijakan Kabupaten Konservasi. Banyak tantangan yang harus dilewati. Tidak hanya karena keterbatasan daerah dalam mengeksploitasi kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) khususnya hutan. Namun, juga harus didukung adanya kesadaran dan tekad dari seluruh komponen masyarakat dalam merealisasikannya. Untuk itu, pemkab terus berusaha mengimbau dan mengundang para pakar dan ilmuwan guna melakukan penelitian, seperti mengenai flora dan fauna dan berbagai jenis batu-batuan yang ada di Malinau. Kegiatan tersebut, sudah dilakukan sekitar tahun 1986 yang difasilitasi WWF serta Center for international forestry research (Cifor).

  • Banjarmasin Post -22 November 2006
    Opini: Menuju Paradigma Baru Kehutanan Indonesia

    Hasil kajian CIFOR (Center for International Forestry Research) mengatakan, pengelolaan hutan yang berbasis masyarakat membuka peluang untuk pengangkatan taraf hidup masyarakat. CIFOR melakukan penelitian tentang pengelolaan hutan berbasis masyarakat di lebih dari dua puluh negara di Asia, Afrika dan Amerika Latin. Program penelitian yang dikenal dengan Adaptive Collaborative Management of Forests, dilakukan sejak enam tahun lalu. Dari hasil penelitian yang luas itu, CIFOR merekomendasikan perubahan paradigma pengelolaan hutan dari sentralistik menjadi berazaskan kerjasama antara pihak berkepentingan seperti pemerintah, masyarakat, pengusaha dan lembaga nonpemerintahan (stakeholder participation).

  • Suara Sumbawa – 22 November 2006
    Kemitraan Pengusaha Kayu dan Petani Farm Forestry di Australia: Buah Pendidikan Lingkungan yang Panjang

    * Tulisan adalah laporan dari staff Dinas Kehutanan dan Perkebunan Sumbawa yang mengikuti program Kemitraan Kehutanan pemerintah Australia, diwakili oleh ACIAR dan pemerintah Indonesia Bagian Timur. Kegiatan kolaboratif ini dilaksanakan oleh Universitas Charles Stuart Australia, Departemen Kehutanan RI, WWF dan CIFOR.

    Farm forestry (lahan pertanian, kehutanan dan pertanian) di Australia telah terpetakan dengan baik dengan sistim GIS. Metoda ini memudahkan masyarakat untuk membuat posisi tanah menjadi jelas karena adanya titik koordinat. Luas kepemilikannya juga luas, antara 70-100 ha. Dalam satu hamparan farm forestry di satu keluarga, tata letaknya menunjukkan adanya perencanaan yang matang dengan diketahuinya indikator lingkungan yang diketahui oleh semua keluarga. Farm forestry di Australia juga berhasil membentuk pola kemitraan antara petani dengan pengusaha kayu.

  • Sinar Harapan – 16 November 2006
    Menyusun Kembali Penelitian Hutan

    Indonesia selain punya hutan tropis terluas setelah Brasil juga dihuni pusat penelitian hutan internasional paling terkemuka Cifor di Bogor. Menurut Menhut MS Kaban, kepunyaan besar Indonesia itu sudah terdegradasi seluas 59,7 juta hektare. Ia berharap Cifor membantu meneliti hutan saja. “Kalau saya datang ke Cifor saya melihat hasil, brosur disana lebih banyak tentang culture, hak-hak kepemilikan,” ujar MS Kaban pada acara perkenalan Director General Cifor yang baru Frances Seymour. Ia berharap forest dan forestry yang betul-betul diriset. Acara perkenalan ini, di kantor Dephut Jakarta, Selasa (14/11), dibarengi dengan kesempatan memberikan masukan bagi arah penelitian Cifor pada masa mendatang.

  • Koran Tempo – 15 November 2006
    Yang Giras dan Merana di Hutan yang Tak Lagi Perawan

    Erik dan Douglas Sheil dari Pusat Riset Kehutanan Internasional (CIFOR) mengumpulkan dan menghimpun data tentang dampak penambangan kayu di hutan terhadap kehidupan beragam spesies di dalamnya untuk mengetahui apakah dampak itu sangat tinggi atau biasa saja. Keduanya mengambil model hutan berisi mozaik antara kebutuhan industri kayu, kepentingan konservasi, dan ketergantungan masyarakat lokal terhadap hutannya di Malinau, Kalimantan Timur. Kesimpulan buku Life After Logging, Reconciling Wildlife Conservation and Production Forestry in Indonesian Borneo yaitu hak pengusahaan hutan tidak selamanya negatif untuk kelestarian hutan dan isinya. Beberapa spesies, seperti burung pelatuk, rusa, banteng, dan kodok, ditemukan jumlah populasinya meningkat di hutan konsesi. Edisi bahasa Indonesia terbit bulan ini

  • LKBN Antara – 15 November 2006
    Ministry to develop 500,00 small-holders' forests in 2007

    The Forestry Ministry will develop some 500,000 hectares of small-holders` forests in 2007 as part of its efforts to realize the targeted 2-3 percent growth in the forestry sector."We will try to realize it by accelerating the expansion of plantation forests. We will encourage people to develop plantation forests," Forestry Minister MS Kaban said here on Tuesday after attending a discussion on "Making Well-Informed Choices About Forests." The discussion was organized in cooperation with the Centre for International Forestry Research (CIFOR).

  • Suara Pembaruan – 14 November 2006
    AS Siap Bantu Atasi Kebakaran Hutan

    Kepala US Department of Agriculture Forest Service (USDAFS), Dale Bosworth mengatakan siap bekerja sama dan membantu Indonesia mengatasi kebakaran hutan dan pembalakan liar. Menurut Dale, pengalaman dalam mengatasi kebakaran hutan dan pembalakan liar yang selama ini ditangani di Amerika akan diberikan kepada pemerintah Indonesia, yang secara teknis menggunakan perangkat citra satelit. Di Indonesia, USDAFS telah bekerjasama dengan CIFOR dalam melakuan penelitian penyebab dan penyelesaian masalah kebakaran hutan yang kian marak.Pakuan Raya Bogor quote same story

  • Investor Daily – 14 November 2006
    AS Tawarkan Teknologi Atasi Kebakaran Hutan

    Badan Kehutanan Amerika Serikat (United State Forest Service-USFS) menawarkan kerja sama teknologi dan pengalaman penanganan kebakaran hutan dan lahan yang terjadi hampir setiap tahun kepada Pemerintah Indonesia. "Di AS kami juga punya masalah serupa, yakni kebakaran hutan yang meluas di beberapa kawasan," kata Sekjen US Department of Agriculture Forestry Service (USDAFS) Dale Bosworth usai mengunjungi Pusat Riset Kehutanan Internasional (Cifor) di Bogor, Senin (13/11).

  • AgroIndonesia – 7 November 2006
    PHBM Bukan Hanya Bagi Keuntungan

    Revitalisasi sektor pertanian, kehutanan dan perikanan bisa disebut berhasil jika sudah mampu mengentaskan masyarakat tani dan warga pedesaan lain dari jeratan dan belenggu kemiskinan. Masalah utama adalah keterbatasan akses terhadap pendidikan, informasi, sumberdaya dan lembaga keuangan. Terkait dengan pembukaan akses terhadap rakyat di kawasan hutan negara di Jawa yang dikelola Perum Perhutani, Herry Purnomo mengemukakan pendapatnya di harian AgroIndonesia.

  • Financial Times – 2 November 2006
    SE Asia Takes Steps to Tackle Haze

    Five south-east Asian countries on Thursday signed up to a series of joint measures aimed at preventing a repeat of the choking haze that has blanketed much of the region for months, costing their economies hundreds of millions of dollars. Greg Clough, a spokesman for the Centre for International Forestry Research, based in Indonesia, welcomed the regional plan. “We can’t expect poor rural farmers to stop using fire to clear land for farming because it is a very cheap and effective farming tool,” he said. “Reimbursing them for their loss of livelihood may encourage them to do that.”

  • AFP – 25 October 2006
    Indonesian Forest Fires May Fuel Global Warming: Experts

    The Center for International Forestry Research (CIFOR) based in Bogor, Indonesia, said that in 1997 Indonesia's peatland fires accounted for 60 percent of the haze despite having only 20 percent of the total area burnt."As more easily accessible upland forests disappear, peat land areas are increasingly harvested by companies and individuals," CIFOR, which is governed by an international board of trustees, said in a statement released during the Singapore meeting. Daniel Murdiyarso, a CIFOR forestry and environmental management specialist, said that Southeast Asia has 60 percent of the world's tropical peatlands. "Fire and ecological change in these areas could seriously exacerbate regional haze and global greenhouse gas emissions," he said in the statement. Another CIFOR expert, Una Chokalingham, said that Indonesia's peat swamps contain 21 percent of the earth's land-based carbon. "Unless actions are taken, that carbon could become hot-house gas in 40 years," Chokalingham said.

    Yahoo! News, Yahoo! Australia & NZ, TODAYOnline Singapore, LKBN Antara News Agency, Yahoo! News Singapore, Khaleej Times Online, Kerala News, Borneo Bulletin, Jakarta Post, Brunei Times quote same story

  • TODAYOnline – 20 October 2006
    Lifting The Haze

    Ms Frances Seymour, the director-general of the Indonesian-based Centre for International Forestry Research, hoped that governments would distinguish between rural farmers and big companies responsible for starting the fires. "The law needs to be tweaked to focus on prosecuting big companies — rather than poor farmers, who burn a small and specific area of land. There has been a serious lack of prosecutions made against the belligerent companies," said Ms Seymour. "So, the reality is companies cause the fires because they can get away with it." She recommended a two-prong approach: A payment scheme for rural farmers to adopt alternative methods and work, as well as the implementation of a performance bond in which companies that flout regulations would be immediately punished with the forfeiture of their bond.

  • Banjarmasin Post – 12 October 2006
    Opinion “Mengkaji Ulang Kebijakan Politik Kehutanan Indonesia”

    Menurut kajian the Center for International Forestry Research (CIFOR), reformasi kehutanan melahirkan sejumlah ‘raja’ baru di daerah. Lebih lanjut dikatakan, iklim reformasi kehutanan dan desentralisasi telah memunculkan elit lokal yang mengelola hutan tanpa berpegang pada azas kelestarian. Hasil dari pengelolaan hutan sebagian besar tidak dinikmati masyarakat banyak. Selanjutnya, hasil kajian bersama CIFOR dan Forest Watch Indonesia (FWI) menunjukkan, desentralisasi dan reformasi memunculkan konflik baru. Masyarakat lokal di seluruh tanah air menuntut hak mereka yang telah dirampas di zaman orde baru.

  • Reuters – 11 October 2006
    Indonesians Pray for Rain Ahead of Regional Haze Meet

    Southeast Asian environment ministers will meet in Singapore on Friday to discuss ways to help Indonesia extinguish forest and brush fires. Environment ministers from Singapore, Brunei, Indonesia, Malaysia and Thailand would be attending. "It's good to see ASEAN try to resolve the issue," said Greg Clough, spokesman for the Center for International Forestry Research in Indonesia. "I'm reluctant to say whether there'll be any impact. It'll have impact in terms of putting pressure on the Indonesian government in ratifying the agreement, but it remains to be seen whether that will happen," he said, referring to a regional haze pact.Mail & Guardian, Yahoo! News India, China Post and Environmental News Network quote same story

  • Media Indonesia - 4 October 2006
    Illegal Logging belum Tuntas, Asap Mengepung

    Penyebab kebakaran hutan ini tidak melulu karena pengaruh fenomena alam. Malahan beberapa penelitian menyebutkan penyebab terbesar adalah tingkah polah manusia. Studi yang dilakukan CIFOR (Center for International Forestry Research), ICRAF (International Centre for Research in Agroforestry)dan the United States Forest Service tahun 1998 menunjukkan sebagian besar data hot-spot kebakaran dari gambar satelit dimulai di daerah perusahaan-perusahaan perkebunan kelapa sawit dan pulp. Pihak perkebunan menggunakan api sebagai pembersih lahan. Api masih dianggap sebagai alat yang murah dan efektif untuk melakukan pekerjaan tersebut.

  • International Herald Tribune - 19 September 2006
    Fighting to save Borneo's vital last rain forests

    Borneo, one of the largest islands in the world, was once covered with dense jungle. But in the past 20 years, indiscriminate logging has leveled nearly 80 percent of its primary rain forest, turning its tropical timber into garden furniture and paper pulp and clearing the way for oil palm plantations. "Committing large sums of money to a conservation project that may reduce economic activity would be a tough political decision," said Douglas Sheil, a scientist at the Center for International Forestry Research in Bogor, Indonesia. "Decisions about protecting a large area of Kalimantan's forest may require approval from not just the central government but from both provincial and district-level governments."

  • Koran Tempo - 13 September 2006
    Opini: Cara Menjadi Orang Terkaya di Indonesia

    Strategi "eksploitasi" hutan, bank, dan anggaran negara masih terus berlanjut sampai hari ini. Dalam skala yang lebih rendah, pola yang sama juga dilakukan oleh orang-orang yang berupaya menjadi orang terkaya di daerah. Pada tingkat ini, "pembobolan" hutan dilakukan dengan mendirikan industri kayu skala kecil, perusahaan-perusahaan perkebunan kelapa sawit, dan perusahaan-perusahaan pertambangan. Industri kayu dan pulp terus mencari peluang untuk menambah kapasitasnya. Industri kehutanan tidak tertarik untuk mengembangkan hutan tanaman industri di lahan-lahan kosong yang tidak ada kayunya.

  • BBC and Western Mail - 13 September 2006
    Grief at student's Amazon murder

    Ms Sequeira died on 3 September. Vanessa Sequeira was working in the Amazon for the Center for International Forestry Research under the joint supervision of the Bangor University and a research institution in Costa Rica. In her last research project, for which she was doing fieldwork in the Amazon, she was studying the sustainability of settlements making use of both their farms and the surrounding jungle. A memorial organised by the researcher's friends and colleagues will be held on 16 September at Kew Gardens in London where she also worked.

  • AgroIndonesia - 13 September 2006
    Prioritaskan hubungan baik CIFOR-Dephut

    Sejak 20 Agustus 2006, Frances J. Seymour akhirnya memimpin Center for International Forestry Research (CIFOR) yang berkedudukan di Bogor. Sebagai orang baru, Frances ternyata bukan orang asing untuk urusan hutan. Indonesia juga bukan negeri asing baginya. Frances pernah bekerja selama lima tahun untuk Ford Foundation dan banyak berhubungan dengan orang-orang Departemen Kehutanan. Itu sebabnya, Frances sangat memprioritaskan membina hubungan baik dengan Dephut sebagai salah satu pemangku kepentingan vital CIFOR.

  • Tuoi Tre Online, Vietnam - 13 September 2006
    Hội thảo“Lồng ghép giữa phát triển và bảo tồn cảnh quan tiểu vùng sông Mê Kông”

    Ông Terry Sunderland, chủ trì Hội thảo cho biết: CIFOR là cơ quan nghiên cứu quốc tế về lâm nghiệp được thành lập vào năm 1983 nhằm đáp ứng mối quan tâm toàn cầu với những hậu quả kinh tế, xã hội và môi trường do suy thoái và mất rừng. CIFOR đã góp phần tích cực trong việc xây dựng các chính sách và công nghệ nhằm sử dụng, quản lý rừng bền vững và nâng cao đời sống cho người dân ở các nước phát triển có sinh kế phụ thuộc vào rừng nhiệt đới. Văn phòng trung tâm của CIFOR đặt tại Indonesia.

  • Kedaulatan Rakyat - 7 September 2006
    Melihat pola LMDH 'Bangun". Delegasi 13 negara kunjungi Purworejo

    Frances Seymour asal USA, salah satu perwakilan delegasi mengatakan, kunjungan kerja ini sebagai rangkaian kegiatan workshop desentralisasi kehutanan yang di Yogya selama tiga hari. “Kami kesini untuk melihat secara langsung pengelolaan hutan yang dilakukan bersama pemerintah, perhutani dan masyarakat.

  • Reuters - 14 August 2006
    China denies plundering world's rain forests

    China on Tuesday denied accusations of plundering the world's rain forests to meet booming demand for wood. A report issued in March by the Centre for International Forestry Research and other groups found about 70 percent of all timber imported into China, now the largest consumer of wood from tropical developing countries, was converted into furniture, plywood and other processed products for export.

    Yahoo News (International, Asia, India, UK and Ireland edition), Vietnamese Thanh Nien News, ABC News, Environmental News Service, Reuters Alertnet, PNG Times, Burma Daily, Malaysian The Star, ABC Radio Australia quote same story.

  • Financial Express (Indian Express Newspapers) - 7 August 2006
    A fairy tale from Mexican forests

    Realising the importance of community participation in forestry India has recently has launched the scheme of joint forest management (JFM). This scheme suffers from unnecessary government controls. The Center for International Forestry Research (CIFOR) in one of its report remarked, “India has 98% of its forests in government hands and absolutely no forests owned by communities.” However, with some leverage under JFM, there are some stray success stories.

  • Bubinga - 6 August 2006
    Natural resource conflict in the Korup area and the politics of indigenousness

    The people of Esukotan avoid Babi village on their way to Nigerian markets. Likewise are Babi villagers afraid to enter the forest let alone the village of Esukotan. Cooperation between the villages in trade and natural resource management has come to a standstill and family members are cut off from each other. Although the conflict situation at first sight seems to be a localised and isolated event, a complex history of migration, trade and identity formation should be taken into account to fully understand the issue at play.

  • Kaltim Post and Radar Tarakan - 2 August 2006
    CIFOR Latih Budidaya Gaharu di Sentaban

    Untuk mencegah terjadinya kepunahan komoditi hasil hutan non kayu di Malinau, Center for International Forestry Research (CIFOR) mengadakan pelatihan budidaya gaharu pada masyarakat Desa Sentaban, Malinau Barat. Pelatihan yang diikuti sekitar 20 orang dengan mendatangkan tenaga pelatih dari Litbang Kehutanan Kaltim tersebut, sebagai salah satu upaya untuk menyelamatkan gaharu dari kepunahan. Kelangkaan gaharu dikarenakan terjadinya pemanenan besar-besaran dan tidak lestari, permintaan minyak gaharu yang semakin meningkat dan harga gaharu yang makin lama makin tinggi.

  • Kaltim Post and Radar Tarakan - 1 August 2006
    Hutan Harus Dijaga Bersama

    Untuk membangun komitmen dalam melakukan pengelolaan hutan secara bersama dengan prinsip pengelolaan terpadu dan tidak mutlak dibatasi wilayah administrasi melainkan mengarah pada pengelolaan bentang alam atau berdasarkan daerah aliran sungai (DAS), maka Pemkab Malinau bekerja sama dengan IUCN dan CIFOR mengelar lokakarya pengembangan pengelolaan hutan oleh masyarakat (PPHM).

  • Bisnis Indonesia - 25 July 2006
    Mampukah JPT meretas krisis industri kehutanan?

    Pada 2003, ekspor kehutanan secara resmi dilaporkan sejumlah US$6,6 miliar atau sekitar 13,7 % dari nilai seluruh ekspor nonmigas. Ekspor itu terdiri dari kayu lapis, kayu gergajian dan kayu olahan US$ 2,8 miliar, pulp dan kertas US$2,4 miliar dan furnitur US$1,1 miliar dan sisanya berasal dari kayu olahan lain. Tetapi, menurut perkiraan CIFOR, karena tidak tercatat seluruhnya jumlah tersebut dapat mencapai lebih dari US$8 miliar.

  • AgroIndonesia - 18 July 2006
    Opini: Hutan, Tenaga Kerja dan Common Property

    Secara singkat dapat dikatakan, jika pemerintah mau menempatkan hutan-hutan yang rusak seluas 60 juta ha sebagai sebuah common property, dimana actor-aktor kecil diberikan hak-hak kelola jangka panjang, maka pengangguran dan kemiskinan dapat teratasi. Lebih dari itu, ketidakadilan pengelolaan sumberdaya alam, terutama hutan yang menimbulkan konflik, akan menurun.

  • Market Wire - 17 July 2006
    'Green Gold' for Green Energy Resources as US DOE forecasts Wood Biomass 'Cellulose Fiber' to Replace Corn as Key Ethanol Source; EU's to Invest $54 billion in 'Cheapwood' by 2015

    Green Energy Resources cited the Center for International Forestry Research and the UK's Department for International Development that $54 billion dollars will be invested in "cheap wood" sources by 2015.The investment reflects strong demand for a variety of renewable energy projects including ,biomass, gasification, co-firing, carbon sequestration and cellulostic fiber. The report in the June issue of "Environmental Finance Magazine" stated European financial institutions such as Dutch ING, ABN Amro and Rabobank,were investing aggressively in environmentally responsible wood supplies.
    Same story also appeared in Sys-Con Media website.

  • Suara Merdeka - 1 July 2006
    Mini Workshop Pelestarian Hutan

    South East Asia Germany (SEAG) berkolaborasi dengan Perum Perhutani mengadakan pelatihan bertema ''Integrating Approaches to Achieve Multiple Goals on Sustainable Forest Management'' di Semarang, 19-20 September 2006. Acara itu dibuka Vice Head Unit I Perum Perhutani Ir Bambang Setiabudi MSc. Pembicara utama Philips Guizol dari Centre of International Forestry Research (CIFOR) dan Head of Corporate Planning and Development Perum Perhutani Sadhardjo Siswamartana.

  • Environmental Magazine - 1 July 2006
    Another Inconvenient Truth: Meat is a Global Warming Issue

    Additionally, rainforests are being cut down at an extremely rapid rate to both pasture cows and grow soybeans to feed cows. The clear-cutting of trees in the rainforest — an incredibly bio-diverse area with 90 percent of all species on Earth — not only creates more greenhouse gases through the process of destruction, but also reduces the amazing benefits that those trees provide. Rainforests have been called the “lungs of the Earth,” because they filter our air by absorbing CO2, while emitting life-supporting oxygen. “In a nutshell,” according to the Center for International Forestry Research, “cattle ranchers are making mincemeat out of Brazil’s Amazon rainforests.”

Greg Clough
Communications Specialist
CIFOR, Jalan CIFOR
Situ Gede, Sindang Barang
Bogor Barat 16680.
Tel: 0251-622-622
Fax: 0251-622100
E-mail:g.clough@cgiar.org