Saat hutan Indonesia semakin berperan dalam upaya global mencegah perubahan iklim, terasa tepat ketika penghargaan Nobel Perdamaian tahun ini melibatkan seorang ilmuwan Indonesia yang selama ini berdedikasi dalam mengupayakan pengelolaan hutan secara berkesinambungan.
Dr. Daniel Murdiyarso ahli klimatologi pada Center for International Forestry Research (CIFOR) yang bermarkas di Bogor, adalah anggota Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) di PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa), yang baru-baru ini terpilih menjadi penerima Hadiah Nobel 2007 untuk Perdamaian, bersama pegiat pemanasan global, mantan Wakil Presiden Amerika Serikat, Al Gore.
Meski memiliki komitmen yang tinggi, Dr Murdiyarso yang selalu rendah hati, berusaha mengalihkan perhatian pada dirinya atas pencapaian ini, dengan menyatakan bahwa ia, “bangga menjadi salah satu diantara ribuan peneliti lainnya yang memberikan sumbangsih ini.”
Posisi Dr Murdiyarso di kalangan elite IPCC yang terdiri atas lebih dari 3000 ilmuwan dari seluruh dunia, patut kita pandang sebagai simbol perubahan yang sedang dijalani Indonesia sebagai bangsa yang kesadarannya akan kondisi lingkungan semakin hari semakin tumbuh ini.
“Saya tidak memiliki kesangsian bahwa perubahan iklim sedang berlangsung saat ini dan di sini. Apa yang telah dihasilkan IPCC sudah cukup jauh untuk menyimpulkan ke arah itu,” ujar Dr Murdiyarso,”Sekarang tergantung pada kita semua untuk bertindak. Jika tidak, kita akan menghadapi konsekuensi lingkungan, sosial dan ekonomi yang belum pernah kita alami sebelumnya”
“Jika Indonesia tidak mulai beradaptasi terhadap perubahan iklim saat ini juga, pemanasan global akan memiliki dampak yang sangat luas dan merusak. Jakarta sudah secara berkala dan lebih sering mengalami banjir. Kebakaran hutan dan lahan yang terkait dengan kekeringan di bagian selatan Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, termasuk juga Jawa dan Bali akan makin sering terjadi dengan intensitas yang makin tinggi. Selain merusak lingkungan hidup penghidupan masyarakat yang tergantung pada hutan juga akan sangat terganggu.”
Tingginya prevalensi penyakit yang dibawa oleh vektor yang kondisi habitatnya terkait dengan perubahan iklim seperti malaria dan demam berdarah dengue akan menjadi semakin sering. Gangguan terhadap produktivitas tanaman dan system irigasi karena meningkatnya suhu dan terganggunya distribusi hujan akan mengancam ketahanan pangan nasional dan global.
Daniel Murdiyarso menyatakan suatu kehormatan untuk menjadi bagian kecil dari kesuksesan IPCC, karena ia menyakini bahwa penghargaan penting seperti Hadiah Nobel akan meningkatkan kesadaran masyarakat secara luas pada perubahan iklim, dan sekaligus juga meningkatkan komitmen mereka untuk bertindak.
“Secara pribadi saya tentu saja merasa terkesan karena telah menjadi bagian dari sesuatu yang maknanya sebesar Penghargaan Nobel ini, dan menyadari bahwa kerja kami semua ini ternyata dihargai oleh pihak lain. Jika hal ini ternyata bisa mendorong timbulnya aksi nyata, bagi kami para ilmuwan, hal ini jauh lebih berarti dari sekadar menjadi terkenal,” lanjutnya.
Daniel selama ini bekerjasama dengan Dr Markku Kanninen, Director for Environmental Services and Sustainable Use of Forests Program (Direktur Program Layanan Lingkungan Hidup dan Pemanfaatan Hutan Berkesinambungan), CIFOR, yang juga memberikan sumbangsih dalam IPCC. Dr Kaninnen menjadi penyunting pada buku yang menjadi perintis pada bidang perkiraan global cadangan karbon yang terbit pada 1993
Dalam siaran mereka, Komite Nobel Norwegia memuji IPCC dan Al Gore atas,”upaya mereka untuk membangun dan menyebarkan pengetahuan perubahan iklim yang ditimbulkan manusia”, juga mengakui upaya ini, “nampak dibutuhkan guna melindungi iklim global di masa depan, dan sekaligus menurunkan ancaman atas keselamatan umat manusia di masa depan.”
Frances Seymour, Direktur Jenderal CIFOR, juga menyatakan hal serupa. “Saya sangat gembira bahwa kerja keras Daniel dan Markku telah diakui sedemikian rupa, saya juga sangat bangga karena CIFOR telah menjadi bagian dari suatu yang dapat mengubah dunia ini,” ujar Seymour.
“Banyak sekali pekerja penting para ilmuwan yang telah berlangsung sejak beberapa lama dalam bidang perubahan iklim, jadi sangat menyenangkan untuk menyaksikan seorang seperti Al Gore mengangkat isu ini ke arus utama dan menimbulkan perdebatan luas. Perubahan iklim memang sudah lama menjadi perhatian para ilmuwan, sekarang menjadi penting juga bagi para politisi, bagi pimpinan korporasi, bagi para guru dan bagi anak-anak kita. Ini sangat menarik,” ujar Seymour.
Tidak disangkal bahwa IPCC dan Gore telah menginspirasi momentum yang betul-betul tanpa preseden sebelumnya atas tantangan perubahan iklim pada tahun 2007. Sekarang, yang diharapkan adalah momentum ini beralih rupa menjadi strategi yang tepat dan terintegrasi pada Conference of Parties (COP) ke-13 yang akan diselenggarakan di Bali pada Desember mendatang.
CIFOR dan rekanannya menyelengarakan Forest Day (Hari Hutan) bersamaan dengan konferensi di Bali itu. Forest Day akan mengumpulkan tokoh dunia dan organisasi internasional yang terlibat dalam perdebatan mengenai hutan dunia dan iklim.
Guna informasi lebih lanjut ...
PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA
Skenario masa depan dari perubahan iklim menunjukan bahwa pada 2080 sebagian Sumatera dan Kalimantan akan lebih tinggi curah hujannya dengan 10 hingga 30 persen selama musim Barat. Kebalikannya, di Jawa dan Bali akan lebih kering 15 persen.
Variasi musim dan cuaca ekstrim seperti El Nino akan lebih dahsyat dan akan lebih signifikan dalam meningkatkan resiko kebakaran hutan selama masa musim kering Indonesia.
Perubahan iklim juga akan menambah resiko frekuensi kebakaran hutan di wilayah selatan Indonesia dimana hutan secara umum lebih kering, termasuk di selatan Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan juga Jawa serta Bali.
CIFOR sangat memberi perhatian pada kebakaran hutan ini karena konsekuensi dahsyat pada sosial dan ekonomi sebagaimana telah diuraikan pada penelitian mutakhir yang menunjukan kebakaran hutan yang sangat merusak di Indonesia pada 1997-98 telah mengakibatkan kerugian sebesar 9 milyar dolar AS.
Dampak dari kebakaran hutan yang diakibatkan perubahan iklim ini juga berakibat pada:
- Kesehatan. Selain mengemisikan karbon dioksida, kebakaran hutan juga akan melepaskan ke udara gas-gas beracun seperti karbon monoksida, ozon, nitrogen dioksida, hidrokarbon yang dapat mengakibatkan penyakit pernafasan yang gawat. Curah hujan yang lebih tinggi dan banjir akan mendorong distribusi yang lebih luas dari penyakit yang disebarkan melalui air. Suhu tropik yang lebih tinggi akan meningkatkan kejadian penyakit yang berasal dari makanan.
- Mata Pencaharian. Meningkatnya prevalensi dan intensitas kebakaran akan mengancam berbagai komunitas yang sangat bergantung kepada hutan untuk memberikan mereka kayu dan juga kebutuhan non-kayu melalui kemunduran habitat hutan, dan akan mengancam ketersediaan air bersih.
- Kehilangan Keanekaragaman Hayati. Kebakaran akan mengeliminasi tumbuhan dan hewan, selain sekaligus mendegradasi habitat hutan. Kebakaran tahun 1997-1998 mengurangi populasi orangutan sebesar sepertiganya.
- Kehutanan dan Pertanian. Kebakaran hutan alami maupun yang disengaja telah menghancurkan kawasan luas hutan komersial maupun perkebunan dan pertanian, seperti hutan untuk bubur kayu dan perkebunan kelapa sawit.
- Pariwisata Kebakaran dan kabut asap mengurangi jumlah wisatawan yang mengunjungi kawasan wisata dan hutan. Kebakaran dapat menghancurkan potensi hutan bagi wisata.
- Transportasi. Kabut asap dari kebakaran dapat mengganggu lalu lintas di perkotaan, pelayaran laut. Rendahnya daya pandang yang diakibatkan adanya kebakaran hutan telah dikaitkan dengan terjadinya kecelakaan lalulintas udara dan pelayaran.
- Emisi GRK (Gas Rumah Kaca). Kebakaran merupakan cara paling efektif untuk mengoksidasi biomassa menjadi karbon dioksika (CO2) dan gas-gas berjejak lainnya. Kebakaran hutan 1997/98 di Indonesia menghasilkan lebih dari setengah pertumbuhan tahunan emisi CO2 dunia